CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Sabtu, 28 Februari 2009

Menghargai Dengan Terbatas

Manusia akan selalu menghargai dengan terbatas pada pengkondisian yang ada.

Disituasikan bahwa kita sedang mengalami hal yang buruk di kelas - sebut saja - kimia. Namun sejauh apakah 'buruk' yang kita maksud adalah yang menjadi persoalan sebenarnya. Reaksi kita pada yang kemudian pun juga adalah tergantung.

Di akhir pelajaran yang buruk tersebut, sang guru menyampaikan pemberitahuan, 'Pelajaran akan kita lanjutkan lagi besok.'

Dari reaksi kebanyakan akan dapat diketahui seberapa burukkah kelas tersebut telah berlangsung, dan sejauh apa kita menghargai relief-opportunity yang dihadiahkan kepada kita. Mereka yang lebih mengerti akan perkara yang sesungguhnya adalah mereka yang akan lebih menghargai.

Alternatif Reaksi 1:

'Pelajaran akan kita lanjutkan lagi besok.'

Gemuruh suara mereka yang mencerca terdengar memenuhi kelas. Mereka yang tidak puas karena harus menderita lagi pelajaran kimia menyuarakan desauan mereka.

Alternatif Reaksi 2:

'Pelajaran akan kita lanjutkan lagi besok.'

Tarikan napas lega menggantung di langit-langit kelas yang telah sebelumnya dipenuhi dengan keresahan. Hanya setelahnya, mereka dapat lagi duduk berselonjor dari sebelumnya ditegangkan.


Sudah jelas, mereka yang mengadopsi alternatif reaksi pertama adalah mereka yang kurang menghargai terlebih karena penderitaan yang harus mereka terima dari kelas kimia tersebut bukanlah sebagaimana terdengar dari pendapat tergeneralisasi mereka.

Namun, mereka yang menganut reaksi kedua adalah mereka yang benar menghargai kelegaan sejenak yang diberikan kepada mereka, karena begitu hebatnya penderitaan mereka telah memuncak dalam kelas kimia tersebut. Mereka bahkan dapat menghargai sedetik saja waktu kabur dari hukuman kelas kimia tersebut.

Adakah prinsip kerja cinta berlaku sama?

0 komentar: