Aku tidak mengerti wanita seperti aku mengenal dunia ini
Dunia ini berlaku atas dasar hukum-hukum yang didalilkan ilmuwan-ilmuwan seperti Newton
Namun tidak ada satupun hukum di dunia ini yang mengatur wanita
Man cannot live without woman
Kata-kata bernada feminis itu agaknya benar adanya
Manusia tidak bisa hidup tanpa wanita
Dan laki-laki pun tidak bisa hidup tanpa mereka
Kalau boleh kubandingkan dengan pelajaran sainsku di sekolah,
Laki-laki adalah adhesi, dan wanita adalah kohesi
Separuh jantung laki-laki dititipkan pada seorang wanita
Namun sayangnya, wanita mampu hidup dalam paruh
Bukan mereka yang membutuhkan kita (laki-laki), tapi tetap saja mereka rela kita gagahi
Entah kenapa, entah bagaimana, aku tidak mengerti mengapa mereka mau kita injakki
Kurasa keberadaan mereka memang sama sekali bukan untuk dimengerti, tapi untuk dipuja
Mungkin ini yang bagi beberapa orang disebut sebagai kodrat, tapi jelas bukan aku salah satunya
Tidak begitu masuk akalku bagaimana hukum kodrat itu dapat berlaku, tapi biarlah
Wanita tidaklah berasal dari dunia ini
Dunia ini tidak bisa mengerti mereka
Karena sesungguhnya, wanita adalah dewi, dan bukan hewan seperti adanya laki-laki
Kata-kataku ini tidak terteruskan karena lidahku kelu dan bibirku terdiam seribu bahasa
Aku tidak tahu dengan bahasa apa aku harus mengisahkan mereka
Tidak pula aku tahu bagaimana kemuliaan mereka sebenarnya
Mereka adalah bagian dari heaven on earth
Karena mereka adalah wanita
Selasa, 23 Desember 2008
Wanita
Diposting oleh mr.gelo di 22.12 0 komentar
Kamis, 21 Agustus 2008
Sarjana Kok Pengangguran??
Generasi muda saat ini sepertinya telah kehilangan semangat kemerdekaan yang seharusnya mereka warisi dari kakek-nenek mereka. Kemerdekaan yang sudah diproklamirkan, dan "kebebasan" yang sudah semakin ditekankan saat ini, sama sekali tidak memberikan kebebasan yang sesungguhnya pada bagian besar dari masyarakat Indonesia. Mereka yang hidupnya di bawah garis kemiskinan masih mendominasi warga Indonesia. Namun anehnya, tidak lagi sama seperti dulu ketika para pemuda terpelajar berjuang dan menyatukan tangan melalui Sumpah Pemuda, saat ini banyak sarjana yang "mengais sisa-sisa kehidupan" masyarakat berada. Sarjana atau tidak, keduanya sama-sama mengemis pekerjaan.
Tiada maksud untuk merendahkan siapapun di sini. Hanya saja, kenyataan ini sungguh sangat pahit bila kita ingat betapa makmurnya kita dulu, betapa kita adalah pusat pelajar-pelajar luar negeri berdatangan untuk menimba ilmu, baik agama maupun yang lain. Survey BPS pada Februari 2008 menunjukkan angka yang fenomenal. 626.202 sarjana menganggur. Angka tertinggi sejak tahun 2004, yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Sempat menurun pada Februari 2006, namun kemudian terus meningkat dan mengalami lonjakan sebesar 38,23% dari Februari 2007 ke Agustus 2007.
Angka di atas belum termasuk lulusan dari diploma atau akademi yang mencapai angka 519.867 jiwa. Lonjakan terbesar terjadi dari Agustus 2007 ke Februari 2008 sebesar 30,89%. Angka pengangguran terus meningkat, padahal bangsa kita sudah "merdeka" beberapa kali. Kemerdekaan kita secara berurut: 20 Mei 1908 (Budi Utomo / Hari Kebangkitan Nasional), 28 Oktober 1928 (Sumpah Pemuda), 17 Agustus 1945 (Proklamasi), 11 Maret 1966 (Supersemar / Lengsernya Rezim Soekarno), 21 Mei 1998 (Reformasi / Lengsernya Rezim Orde Baru). Kemerdekaan-kemerdekaan di atas selalu diprakarsai oleh pemuda-pemudi Indonesia. Namun, mana buktinya?
Sampai saat ini masih jutaan rakyat Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan. Kesejahteraan yang dicanangkan sejak tahun 1945 dalam UUD '45 tidak pernah terwujud. Sejahtera hanya dapat dirasakan oleh segelintir orang yang cenderung tidak lagi memiliki hati nurani untuk berbagi kesejahteraan itu dan mempedulikan mereka yang tidak bisa merasakan makna sejahtera sendiri. Intelek Indonesia sepertinya tidak sanggup lagi merevitalisasi tingkat kesejahteraan di Indonesia. Mengapa?
Para intelek yang seharusnya menjadi ujung tombak andalan bangsa malah menganggur, dan akhirnya menyerah pada kekejaman nasib. Para intelek yang seharusnya berdiskusi bersama mencari solusi, malah asyik berdemo di bundaran HI dan depan gedung DPR. Para intelek yang seharusnya memimpin bangsa ini, malah menjadi "kaum pembuat onar" saja, kata mereka yang senior. Jadi, di mana lagi harus kita cari penerus bangsa ini selain di antara kaum intelektual?
Apa yang terlihat di dua kenyataan ini adalah bahwa menurunnya standar intelektualitas Indonesia berpengaruh sangat besar pada tingkat kesejahteraan Indonesia. Kaum intelek mempunyai pengaruh yang luar biasa pada kemajuan bangsa ini. Di pundak merekalah bangsa ini berharap. Di bahu merekalah seharusnya bangsa ini bersandar. Hal ini terbukti dari sejak para pemuda Indonesia mengenyam pendidikan, kebangkitan nasional barulah terjadi. Di tangan generasi mudalah kebangkitan nasional.
Kebobrokan moral, dan semakin menjadinya semangat individualistis, ketidakpedulian terhadap orang lain, dan semakin tidak adanya rasa cinta generasi muda Indonesia pada tanah airnya mencerminkan masa depan bangsa ini. Generasi ini yang akan menggantikan posisi para pemimpin-pemimpin kita yang sebentar lagi akan atau mungkin sudah usang. Karenanya, tidak adanya pembaharuan semangat dalam generasi muda, yang identik dengan intelek, akan menghancurkan kita di masa yang akan datang, bahkan mungkin dalam waktu singkat.
Hal ini mungkin disebabkan oleh tingkat pendidikan yang bukannya semakin membaik, malah sebaliknya. Adanya perubahan atau pergeseran nilai-nilai yang di anut oleh generasi muda saat ini tidak diikuti oleh penyesuaian kurikulum oleh Depdiknas. Kurikulum yang fleksibel seharusnya menggantikan kurikulum lama kita yang sudah kuno, ketinggalan 2-3 langkah dari negara-negara maju.
Harus diakui, gejolak perubahan nilai ini tidak hanya dialami oleh Indonesia, tapi juga seluruh dunia. Negara adidaya Amerika, yang terus mempertahankan tradisi pendidikannya, saat ini juga mengalami goncangan. Negara yang menjadi kiblat dari kemajuan, modernitas, dan perkembangan ini juga sedang berjuang dalam mewadahi perubahan substansial dalam pribadi generasi sekarang. Banyak desakan berdatangan dari pengamat pendidikan untuk menciptakan kurikulum yang bisa mengakomodasi anak-anak "baru" zaman sekarang.
Sementara Indonesia, terbiasa berleha-leha, menunggu negara maju menciptakan inovasi untuk dicontek bangsa kita. Kita adalah pengikut yang setia, copycatter yang sempurna. Kemalasan orang kita untuk berpikir, bermimpi dan mengambil alih pimpinan mungkin adalah mental yang ditanamkan sejak kita masih kecil. Kita "diajarkan" untuk kalah, menjadi nomor 2, dan menjadi pihak yang lemah. Ada pendapat bahwa itu disebabkan oleh penjajahan selama 365 tahun oleh Belanda, dan 3,5 tahun oleh Jepang. Bagaimanapun juga, kita tidak sepatutnya menyerah seperti itu.
Kemerdekaan adalah sesuatu yang bersifat pasif. Ia tidak seperti mental perbudakan yang aktif. Kemerdekaan tidak bisa berjuang sendiri. Ia membutuhkan manusia untuk mewujudkannya. Sementara mental perbudakan dapat secara aktif mencari celah untuk tetap eksis. Karenanya, kemerdekaan adalah sesuatu untuk diperjuangkan, secara aktif dan kontinu. Saat kita berhenti berjuang, kemerdekaan kita akan direbut daripada kita.
Momen-momen bersejarah yang disebutkan di atas adalah saat-saat di mana kita merdeka. Namun, sesudahnya, kita berhenti berjuang. Kita mengira, rezim telah jatuh, kita bebas, saatnya bersantai. Tapi tidak! Perjuangan kita tidak pernah berhenti. Kemerdekaan tidak pernah datang sendiri. Kemerdekaan harus diperjuangkan! Harus! Kebebasan harus diperjuangkan. Kemerdekaan bukanlah sekedar proklamasi pada dunia bahwa kita bebas. Namun, kemerdekaan adalah semangat. Dan semangat membutuhkan perjuangan yang kontinu.
Karenanya, untuk dapat merdeka seutuhnya, kita harus tetap berjuang. Indonesia tetap membutuhkan tetes darah perjuangan generasi mudanya. Indonesia membutuhkan semangat kemerdekaan itu lagi untuk benar-benar bebas dari belenggu kemiskinan, kebodohan, kolonialisme negara lain, dan untuk tetap eksis di era globalisasi ini.
Merujuk pada pendidikan Singapura, anak-anak Singapura memulai pendidikan mereka sama seperti anak-anak Indonesia pada umumnya di kota besar. Pada umur 3 tahun masuk ke jenjang TK (Kindergarten), kemudian dilanjutkan selama 6 tahun di SD (Primary). Namun setelahnya, ada sedikit perbedaan yang sangat signifikan artinya. Pemerintah Singapura mengerti akan adanya perbedaan kecerdasan anak. Karenanya memasuki jenjang SMP (Secondary) anak diberikan "pilihan" berdasarkan kemampuan masing-masing. Secondary di Singapura bisa ditempuh dalam 4 tahun (Express) dan 5 tahun (Normal). Pada akhir jenjang ini, bagi siswa yang express, akan mengikuti ujian "O" (Ordinary) Level; sedangkan yang normal akan mengikuti ujian "N" Level. Setelah itu, banyak pilihan tersedia. Mereka bisa mengarah ke Politeknik, Institut, atau SMA (Junior College - persiapan menuju universitas) - yang juga bisa ditempuh selama 2 atau 3 tahun, tergantung tingkat kecerdasan anak masing-masing - di mana mereka akan mengambil ujian "A" (Advanced) Level pada akhirnya.
Skema di atas tidaklah bermaksud untuk mengelompok-kelompokkan mereka yang pintar dari mereka yang bodoh. Namun, mengakomodasi tingkat kecerdasan pribadi yang berbeda-beda. Teman saya yang berkewarganegaraan Singapura mengaku mengikuti yang normal. Ia menambahkan bahwa kebanyakan anak di Singapura mengambil sama seperti dirinya. Itu berarti, aplikasi skema tersebut sama sekali tidak membuat malu yang satu atau meninggikan yang lainnya. Ia tambahkan lagi bahwa menempuh yang normal saja sudah membuat stres apalagi yang express.
Ujian yang mereka jalani, "O" Level, "N" Level, "A" Level, juga PSLE (Primary Six Leaving Exam) untuk ujian akhir SD, tidak menganut sistem lulus / tidak lulus. Hanya tinggal berapa nilai yang mereka peroleh. Bila ada nilai yang merah atau yang kurang memuaskan, terserah pada sang anak apa ia akan melanjutkan atau mengulang 1 tahun. Tidak ada pemaksaan. Sama seperti skema mana yang mau dijalani adalah pilihan anak yang akan menuntut konsekuensi dari sang anak sendiri. Satu hal yang sepatutnya kita tiru untuk Indonesia.
Bila kita lihat pelaksanaan UN saat ini, kita mati-matian dengan segala cara untuk lulus, tidak peduli berapa nilai yang kita peroleh. Lulus dengan nilai pas-pasan sudah membuat hati senang riang gembira. Hal ini juga berdampak pada ketidaksiapan lulusan SMA saat mengenyam pendidikan tinggi, dan diturunkannya juga standar penerimaan masuk perguruan tinggi dan materi selama kuliah, agar terus mendapat suplai murid demi keberlangsungan perguruan tinggi yang bersangkutan.
Lain halnya dengan Singapura, sangat sedikit yang mau belajar terus sampai kuliah. Kebanyakan dari mereka, menjalani Secondary selama 5 tahun, lalu dengan ijazah tersebut melanjutkan terlebih dahulu ke Polytechnic selama kurang lebih 3 tahun. dan kemudian mereka siap untuk kerja. Perkara setelahnya, apakah mereka mau mengambil gelar sarjana 1 atau bahkan langsung meloncat ke strata 2, atau tetap bekerja dengan gelar diploma (didapat setelah lulus dari politeknik) saja, kembali adalah pilihan sang anak. Karenanya, lulusan-lulusan universitas Singapura sangat terjamin mutu dan kualitasnya. Sementara lulusan-lulusan politeknik adalah individu-individu yang siap kerja dan kompetitif di pasar tenaga kerja.
Berbeda jauh dengan keadaan di Indonesia saat ini. Lulusan universitas-universitas Indonesia masih banyak yang menganggur. Padahal biaya untuk kuliah dan selama kuliah pun tidak sedikit. SMK pun tidak populer di kalangan masyarakat. "Ga ada gengsinya", adalah gema dari SMK. SMK swasta pun tidak banyak tersedia karena pasarnya relatif tidak ada. Padahal, tidak semua orang mendedikasikan dirinya untuk belajar. Beberapa orang mungkin berpendapat "belajar untuk hidup" (tipe SMK), sedangkan yang lain, "hidup untuk belajar" (tipe SMA). Atau mungkin lebih tepatnya, mereka yang cenderung praktikal seharusnya memilih SMK, sedangkan mereka yang lebih teoretis memilih SMA.
Karir di keduanya seharusnya dibuat menjanjikan, karena memang menjanjikan. Sementara sekarang, yang terlihat menjanjikan hanyalah pekerjaan melalui SMA (teoretis) seperti bisnis, manajemen, hukum, dokter, dsb. Padahal, pasar tenaga kerja sedang meraung-raung mencari angkatan kerja yang siap bekerja. Juga ada bidang-bidang yang lagi in seperti teknik informasi, multimedia, dan mass communication ataupun public relation. Tak lupa juga, ada bidang-bidang lama yang menangis karena jarang peminat, seperti: teknik sipil, pertanian, perkebunan, perhutanan, teknik mesin, teknik elektro, dan berbagai teknik-teknik lainnya yang sebenarnya lebih praktikal. 3 masalah di atas seharusnya bisa diselesaikan oleh kehadiran SMK yang berbobot, karena mereka bersifat lebih praktikal, membutuhkan kesempatan bereksperimen, magang, dan berhadapan langsung dengan dunia kerja sesungguhnya.
Lulusan SMK sepatutnya dipersiapkan untuk bekerja, siap bekerja tanpa mengenyam pendidikan di universitas terlebih dahulu. Karena ternyata, masih banyak pula yang hanya mengandalkan ijazah SMA untuk mencari kerja. Survey BPS Februari 2008 menunjukkan angka 3.369.959 lulusan SMA menganggur. Tidak terlalu fenomenal jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang pernah mencapai angka 5 juta pada November 2005, namun patut dipertanyakan juga.
Hal ini tidak dimaksudkan untuk membeda-bedakan hak belajar sebagai seorang WNI, namun mengakomodasikannya. Sekali lagi perlu kita ketahui bahwa tidak semua orang suka belajar. Tidak semua orang tidak suka belajar. Dan kita perlu mengakomodasi keduanya. Yang terpenting adalah kita bisa menyediakan kehidupan yang lebih layak melalui pendidikan. Baik itu melalui SMK kemudian bekerja, ataupun melalui SMA-Universitas-Bekerja yang lebih memakan biaya tentunya.
Menyediakan SMK yang lebih bergengsi dan berkualitas adalah salah satu cara terbaik yang bisa kita tempuh saat ini. Ini akan menjawab berbagai persoalan kita dari mengurangi pengangguran intelektual, mengurangi perbedaan tawaran dan permintaan dari lapangan kerja dan angkatan kerja, dan memajukan Indonesia dengan membaiknya standar intelektualitas. Satu pesan tersisa, berjuanglah tanpa henti, karena kebebasan tak bisa didapat tanpa perjuangan yang kontinu.
Diposting oleh mr.gelo di 02.48 0 komentar
Selasa, 19 Agustus 2008
Koruptor...mau diapakan??
Korupsi yang sudah begitu merajalela di dalam tubuh Negara Kesatuan Republik Indonesia ini sepertinya sudah begitu mendarah daging. Namun, satu pertanyaan terus mencuat, bagaimana menanganinya? Banyak pihak menegaskan bahwa koruptor harus mendapatkan efek jera dari perilaku korupsinya. Beberapa ide lahir dan membuahkan juga pro dan kontra. Sebut saja hukuman mati bagi koruptor dan yang terbaru, baju seragam terdakwa koruptor dan pemborgolan koruptor.
Sudah cukup lama saya bertanya-tanya dalam hati, mengapa tidak digunakan saja lie-detector di pengadilan. Dengan begitu, tidak perlu lagi repot-repot mencari bukti korupsi yang sepertinya “kwitansinya adalah uap”. Hanya tertinggal kepintaran sang tersangka dalam menguasai saraf-sarafnya dan hati korup dari “sang algojo” alias seorang poligrafer yang akan menggunakan alat tersebut; yang akan menjadi penghalang suksesnya metode ini.
Sebuah tayangan televisi dari luar negeri, The Moment of Truth, akhirnya menjadi sebuah inspirator yang luar biasa bagi saya dalam mengemukakan pendapat saya ini. Orang-orang bertarung melawan dirinya sendiri untuk mendapatkan uang jutaan dollar. Mereka yang berani mengakui kebenaran – yang bahkan menyangkut kebenaran-kebenaran memalukan yang selama ini berusaha disembunyikan – akan membawa pulang hadiah grand prize tersebut dan rasa malu, juga mungkin ketenangan batin.
Lantas saya bertanya pada diri sendiri, kira-kira mengapa alat ini tidak dipergunakan? Mungkin argumen yang akan muncul ketika ide ini dipertimbangkan adalah “Asas Praduga Tak Bersalah”. Asas ini sebenarnya bertujuan baik, untuk melindungi hak-hak dari tersangka yang sebenarnya tidak bersalah. Namun kenyataannya saat ini, asas ini malah dipergunakan untuk melindungi para koruptor dari hukuman berat yang tak mau mereka jalani.
Walau begitu, saya akan tetap menerima asas ini sebagai sebuah asas yang harus diperjuangkan. Namun menurut saya, penggunaan lie-detector dalam menguak kasus korupsi sama sekali tidak melanggar asas tersebut. Justru, mendukung asas tersebut. Mereka yang terbukti tidak bersalah, dapat pulang dari ruang pengadilan dengan kepala terangkat dan dengan imej yang sangat terjaga, bahkan dengan harga diri yang lebih tinggi dari ketika ia masuk ke dalam ruang pengadilan ataupun ketika ia masuk ke gedung DPR untuk pertama kalinya (jika ia adalah seorang anggota DPR). Namun, bagi mereka yang akhirnya terbukti bersalah, apakah masih berlaku perlindungan dari asas tersebut?
Mereka yang terbukti bersalah dapat diperlakukan layaknya seorang tersangka. Diperlakukan sama, layaknya terpidana kasus lain. Karena yang selama ini terlihat, korupsi adalah kasus pidana yang paling ringan hukumannya, dan merupakan kasus pidana yang “istimewa”. Dalam arti, memang istimewa, dan bukan sebaliknya. Dilakukan oleh orang-orang istimewa yang menyuap orang-orang istimewa dan akhirnya diperlakukan dengan istimewa pula. Seharusnya, mereka diborgol, menggunakan seragam koruptor, menggunakan bus dan tinggal di sel penjara yang sama dengan terpidana kasus lainnya, serta di hukum seproporsional kasus-kasus lainnya.
Namun juga, saya tak ingin menyangkal adanya kemungkinan kesalahan dalam penggunaan lie-detector. Lie-detector sendiri adalah buatan tangan manusia dan dioperasikan oleh manusia yang karenanya tidaklah sempurna. Oleh karena itu, walaupun hasil tanya jawab dengan lie-detector sudah cukup untuk membuat seorang tersangka berubah statusnya menjadi seorang terdakwa, seorang terdakwa mempunyai hak untuk memulihkan namanya, menerima grasi dari presiden, dan membuktikan dirinya tidak bersalah melalui pembuktian terbalik. Hal ini berarti seorang terdakwa perlu memberikan bukti-bukti yang kuat tentang ketidakterlibatannya dengan kasus korupsi manapun, sebaiknya bukan hanya kasus yang tersangkut padanya saat itu. Karena bisa saja diajukan pertanyaan sebuah pertanyaan, “apakah Anda pernah korupsi?”, dan lie-detector menyatakan “ya”; namun tidak langsung berarti ia melakukan korupsi untuk kasus yang menyangkutnya saat ini. Jadi karenanya, ia yang akan secara aktif mencari bukti untuk membela dirinya, bukan lagi KPK atau jaksa penuntut yang mencari bukti untuk menjatuhkan.
Penolakan penerapan pembuktian terbalik dengan alasan asas praduga tak bersalah sudah tak lagi relevan dalam konteks ini. Hal ini dikarenakan oleh perubahan status yang sudah terjadi dari tersangka – yang berhak atas hak tersebut – menjadi terdakwa. Terdakwa korupsi – harus saya tekankan – tidaklah berbeda dengan terdakwa kasus lainnya. Oleh karena itu, terdakwa korupsi tidak lagi memiliki hak atas asas praduga tak bersalah. Mereka sebaiknya telah divonis bersalah sejak lie-detector menyatakan mereka bersalah. Tidak berarti kita hendak menyerahkan segala pengambilan keputusan ke tangan teknologi dan teknokrat. Namun sesungguhnya, memanfaatkan kemajuan teknologi untuk membantu kita berkembang menjadi lebih baik.
Dalam penerapannya, sebaiknya pihak pengadilan bekerja sama dengan 2 pihak, yaitu pers dan KPK. Hal ini bukan dialamatkan pada intensitas korupsi di dalam dunia yustisi yang serba abu-abu, walau memang ada keraguan dalam masyarakat pada para penegak hukum negeri ini. Namun, justru untuk menciptakan penegakan hukum yang terbuka, lebih bertanggung jawab dan meningkatkan citra baik penegak hukum Indonesia di mata masyarakat.
Pertama, bekerja sama dengan pers, di mana pers diizinkan masuk ke dalam ruang pengadilan menyangkut kasus korupsi, meliput setiap kegiatan di dalamnya. Terutama kegiatan tanya jawab menggunakan lie-detector. Hal ini ditujukan untuk menciptakan keterbukaan peradilan, dan menghargai asas praduga tak bersalah. Mereka yang tersangka kasus korupsi – entah benar melakukan korupsi atau tidak – namanya di masyarakat sudah tercoreng. Walaupun di kalangan pejabat atas, biasanya, masih dimaklumi. Dengan adanya pers yang meliput tanya jawab di ruang pengadilan, dan lie-detector terhubung ke tubuhnya, seorang tersangka korupsi diberikan kesempatan emas untuk membuktikan dirinya bersih korupsi ke seluruh masyarakat Indonesia. Mengangkat harga dirinya kembali dan melempar rasa malu – yang ia rasai sebelumnya – pada mereka yang menuduhnya atau berpandangan buruk terhadapnya.
Selain dengan pers, juga dengan KPK. Sebagai komisi yang berusaha menguak kasus korupsi di Indonesia dan juga popularitasnya yang sedang di atas angin, ini adalah saatnya bagi KPK untuk membuktikan dirinya sebagai institusi yang bersih dan sejalan dengan apa yang ia perjuangkan. KPK-lah yang aktif berperan dalam penguakan kasus korupsi, maka berikanlah juga kesempatan baginya untuk terlibat dalam proses pendakwaan seorang tersangka korupsi, agar ia tak sekedar asal menuduh dan lepas tangan setelahnya. Jika perlu, berikanlah kesempatan itu pada ketua KPK sendiri, saat ini bapak Antasari Azhar untuk menanyai langsung tersangka di pengadilan. Beliau sebagai seorang sosok yang sangat dipandang saat ini untuk masalah integritas, biarlah beliau sendiri yang ikut mengangkat kredibilitas dari KPK dan yustisi Indonesia.
Ide “gila” ini mungkin akan menuai pro dan kontra ketika didengar oleh publik. Namun bagi saya, ini adalah saat yang tepat bagi setiap institusi dan lembaga kepemerintahan untuk berani terbuka. Apa yang mungkin saja terjadi dengan diterapkannya metode ini adalah penyeretan lebih banyak anggota DPR, birokrat, penegak hukum, menteri, dan mungkin saja anggota KPK ke dalam kasus-kasus KKN. Karenanya, saya ingin menantang seluruh lapis masyarakat Indonesia untuk berani “telanjang” di hadapan publik dengan segala noda celanya. Memberanikan diri dinilai oleh masyarakat banyak secara objektif. Terutama saya ingin menantang mereka, individu-individu yang duduk di 3 lembaga penting republik ini: Eksekutif, Legislatif, Yudikatif. Beranikah Anda mensahkan rancangan ini sebagai alat untuk menilai seberapa bersih lembaga Anda? Saya rasa bangsa ini sudah muak dengan segala argumen-argumen yang menyiratkan kepengecutan, kami menuntut bukti dan bukan sekedar janji. Pemilu 2009 menjadi ajang tebar bukti, janji kosong biarlah berlalu!
Diposting oleh mr.gelo di 23.51 0 komentar
Jumat, 08 Agustus 2008
Nature’s Term of Human Preservation
Seperti judul yang tertera di atas, Nature’s Term of Human Preservation, apa yang akan saya bahas kali ini adalah “cara alam merawat manusia”. Kurang lebihnya bila diartikan seperti itu. Apa yang saya sebut “merawat” di sini adalah bagaimana penurunan sifat pada manusia itu berjalan. Benar-benar sifat, dan hanya sifat. Saya tidak akan membahas penurununan “sifat” fisik manusia, seperti bentuk mata, hidung, warna kulit, dll. Sama sekali tidak berhubungan dengan fisik. Sudah cukup pelajaran biologi di sekolah mengupas habis materi tersebut. Namun apa yang mau saya tekankan dalam bahasan saya adalah bagaimana kualitas seorang individu bisa dipertahankan dari generasi ke generasi.
Ada sebuah prinsip keseimbangan di alam yang kita huni ini. Dan demi menjaga keharmonisan isinya, alam harus menjaga keseimbangan itu. Segala sesuatunya harus berjalan dalam kesetimbangan. Harus ada kebaikan, namun juga harus ada kejahatan. Mengapa? Tanpa kejahatan, kebaikan tidak akan pernah ada. Coba Anda bayangkan jika semua orang di dunia ini adalah orang yang baik. Mungkin jawaban pertama yang terlintas dalam benak Anda adalah dunia ini akan menjadi sangat damai dan menyenangkan untuk dihidupi. Tapi, cobalah renungkan kenyataan yang tak mungkin ini, tidak aka nada lagi yang namanya kebaikan; karena tidak ada kejahatan untuk dijadikan perbandingannya.
Hal yang lebih mudah di mengerti mungkin kenyataan bahwa harus ada orang yang tampan dan orang yang tidak tampan di dunia ini. Mengapakah demikian? Karena jika semua pria di dunia ini berwajah seperti Brad Pitt, apakah akan ada lagi yang disebut tampan dan tidak tampan? Jelas tidak! Semua pria berwajah sama. Bila sekarang saya bertanya pada Anda, apakah Brad Pitt tampan? Mungkin iya, jawabnya. Tapi, bila semua pria berwajah Brad Pitt, dan ia tampan, maka seperti apa yang tidak tampan? Mungkin jawaban yang tepat adalah orang yang di operasi plastik atau yang mengalami kecelakaan dan wajahnya mengalami kerusakan. Jadi, bagi Anda yang merasa berwajah tidak setampan/ secantik teman Anda atau kolega Anda, Anda seharusnya bangga pada diri Anda; Anda juga tidak perlu membohongi diri sendiri dengan menganggap wajah Anda tampan, walaupun Anda merasa tidak seperti itu keadaannya; karena Anda adalah bagian penting dari kelangsungan alam tempat kita tinggal ini. Tanpa keberadaan Anda, saya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya bumi ini.
Sama halnya dengan contoh-contoh di atas, kualitas seorang individu pun tidak sempurna baik atau sempurna jahat – selama individu tersebut masih hidup di dunia ini. Karena alam benar-benar membutuhkan keseimbangan, keseimbangan akan 2 hal yang sangat berlawanan. Hampir mustahil pula menemukan seseorang yang otak kanannya 100% dominan, atau sebaliknya. Menurut saya, kalaupun pernah ada, orang tersebut tidak akan bertahan lama, bukan maksud saya “tidak panjang umur”, tapi mungkin akan meninggal saat masih bayi karena “cacat otak”.
Jadi, sejauh yang bisa saya temukan, mungkin cara termudah untuk menjaga keseimbangan kualitas individu-individu di dunia adalah dengan mempertahankannya turun-temurun dari generasi ke generasi. Bayangkan saja bila antar satu generasi ke generasi di bawahnya, terjadi perubahan kualitas dari seluruh individu di dunia, untuk tetap menjaga keseimbangannya, alam harus mereorganisasi kualitas-kualitas tersebut antar individu di seluruh dunia. Untuk mempermudah menjelaskannya, akan saya berikan contoh sebagai berikut:
1. Alibaba – pria ini berwatak: baik, jujur, pemarah, sensitif.Setiap individu yang saya sebutkan memiliki 4 watak. Waktu berlalu, keempat orang ini menikah – tidak dengan individu lain yang disebutkan di atas – masing-masing mempunyai seorang anak. Jika alam tidak menerapkan sistem mempertahankan kualitas individu antar generasi, akan lebih mudah jika ini yang terjadi:
2. Bima – pria ini berwatak: keras, tangguh, pantang menyerah, sombong.
3. Challice – wanita ini berwatak: manis, bermuka dua, diplomatis, percaya diri.
4. Dian – wanita ini berwatak: pemalu, penyendiri, pintar, sabar.
1. Ahmad – anak laki-laki Alibaba ini berwatak layaknya Challice: manis, bermuka dua, diplomatis, percaya diri.Hanya kombinasi dari watak individu yang diturunkan tidak dalam garis lurus, tapi dibelokkan – bukan untuk anaknya sendiri – tapi untuk keturunan individu lain.
2. Bobby – anak laki-laki Bima ini berwatak layaknya Alibaba: baik, jujur, pemarah, sensitif.
3. Charlize – anak perempuan Challice ini berwatak layaknya Dian: pemalu, penyendiri, pintar, sabar.
4. Dina – anak perempuan Dian ini berwatak layaknya Bima: keras, tangguh, pantang menyerah, sombong.
Dari bagan di atas, dijelaskan bagaimana pembelokan penurunan kombinasi sifatnya terjadi. Bila ini yang terjadi akan lebih mudah. Walaupun, dalam contoh ini hanya ada 4 sampel, tidak dengan jutaan atau bahkan milyaran orang di bumi ini. Namun, lain halnya bila yang terjadi seperti ini:
1. Ahmad – anak laki-laki Alibaba ini berwatak: jujur, bermuka dua, pemarah, tangguh.
2. Bobby – anak laki-laki Bima ini berwatak: baik, penyendiri, keras, diplomatis.
3. Charlize – anak perempuan Challice ini berwatak: pemalu, manis, pintar, pantang menyerah.
4. Dina – anak perempuan Dian ini berwatak: sensitif, sombong, percaya diri, sabar.
Kombinasi tersebut diacak terlebih dahulu sebelum diturunkan ke sembarang individu. Sangat sulit. Bahkan saya dalam mengerjakan contohnya harus terlebih dahulu menulisnya di atas kertas dan memberi catatan pada kata sifat yang telah saya gunakan.
Anda lihat? Sedemikian ruwetnya garis untuk menyatakan bagaimana satu kata sifat dari generasi pertama ke generasi kedua diturunkan bila dilakukan secara acak, tanpa adanya Nature’s Term of Human Preservation.Dalam kedua contoh kemungkinan di atas, watak-watak yang dimiliki oleh generasi pertama akan tetap dimiliki oleh generasi kedua. Watak-watak tersebut akan tetap ada di bumi walaupun setelah generasi pertama tidak lagi ada di bumi, atau meninggal. Tidak ada yang hilang maupun ditambahkan. Dalam contoh ini, karena hanya ada 4 individu yang mempunyai watak masing-masing 4, hanya ada 16 watak yang disebutkan. Lain halnya dengan kenyataannya dalam kehidupan. Masih banyak watak lainnya yang tidak saya sebutkan, yang bisa saja bersifat umum – dalam artian dimiliki oleh banyak orang atau lebih dari satu – atau khusus/ unik – yang berarti hanya dimiliki oleh seorang individu. Karena jumlah yang sangat besar dari penduduk dunia dan “keterbatasan” kata sifat yang mungkin bisa menggambarkan perilaku seseorang, mungkin akan ada satu atau lebih kata sifat yang di miliki oleh lebih dari satu orang, dengan perbandingan yang senilai dengan kata sifat umum lainnya. Watak-watak yang dipertahankan tersebut, tidak ada yang “mati” maupun “baru lahir” dimaksudkan agar “memudahkan” alam dalam menjaga keseimbangan kehidupan di dunia.
Walaupun akhir-akhir ini, di akhir abad ke-20 dan awal abad 21, dikabarkan adanya kelahiran bagi kepribadian-kepribadian baru yang sangat jauh berbeda dari generasi-generasi sebelumnya. Akan saya sebutkan panggilan untuk individu-individu baru ini, mereka adalah anak-anak indigo. Seperti disebutkan oleh Nancy Tappe – pengarang buku Understanding Your Life Through Colour, 1982 – dalam wawancaranya dengan Jan Tober – co-writer buku fenomenal The Indigo Children – bahwa adanya “warna-warna” baru yang muncul sekitar tahun 1980-an dan lambat laun akan menggantikan tempat dari warna-warna kehidupan yang lama. Di mana jika pernyataan yang ia buat tepat, berarti akan ada perubahan besar dalam dimensi kehidupan manusia di seluruh penjuru dunia. Alam harus membuat terlebih dahulu cetak biru dari proporsi kepribadian-kepribadian manusia di masa mendatang agar dalam keadaan seimbang. Sementara alam mengusahakan cetak biru yang ia buat menjadi nyata, akan ada restrukturasi dan guncangan besar akibat ketidakseimbangan yang mungkin disebabkan oleh kehadiran kepribadian-kepribadian baru ini sebelum akhirnya yang lama berlalu dan yang baru sepenuhnya datang, dan mencapai titik keseimbangan pada akhirnya.
Revolusi kepribadian manusia ini adalah masalah perubahan struktur, dan revolusi yang melibatkan struktur akan selalu menyebabkan chaos untuk sementara waktu. Mungkin itu sebabnya banyak terjadi kerusakan hubungan di dalam keluarga. Orangtua-orangtua yang tidak mengerti anaknya, dan anak yang memberontak terhadap orangtuanya; di mana keduanya tidak bisa saling mengerti. Metode-metode lama dalam mendidik anak yang mungkin dipraktikkan oleh kakek-nenek kita pada orangtua kita, tidak lagi bisa dikembangkan pada kita. Orangtua bertanya-tanya dengan sebal apa sebabnya anak-anak jaman sekarang sangat sulit menurut, sementara anak-anak – terutama remaja – mengecap orangtua sebagai orang-orang yang old-fashioned dan tidak mengerti mereka. Chaos ini mungkin sekali disebabkan oleh kehadiran warna-warna baru dalam generasi masa kini.
Anda lihat? Dalam 2 contoh awal yang saya berikan, dan satu pernyataan dari Nancy Tappe yang mungkin mengandung kebenaran, ketidakseimbangan dalam dimensi kehidupan manusia akan menuntun pada chaos. Jadi, demi menjaga keharmonisan kehidupan di bumi ini, alam harus menerapkan sebuah prosedur dalam menjaga penurunan sifat individu. Dan cara termudah dalam melakukannya adalah dengan menurunkannya dalam satu garis lurus. Dengan kata lain, sifat-sifat orangtua diturunkan pada anak-anaknya. Dengan demikian, keseimbangan akan lebih mudah dipertahankan.
Ada sebuah pernyataan yang sangat terkenal di dunia barat,
“Like father, like son.”Sementara di Indonesia sendiri,
“Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.”Dua pernyataan ini mengandung satu makna yang sama. Menyiratkan akan adanya Nature’s Term of Human Preservation. Sering sekali kita melihat bahwa seorang anak dan seorang bapak memiliki kemiripan yang sungguh luar biasa. Dari cara berjalan, caranya makan, bahkan berbicara.
Sekarang yang patut dipertanyakan adalah bagaimana caranya penurunan sifat ini berlangsung? Ada 2 cara yang berhasil saya temukan. Kecenderungan yang pertama adalah melalu genetika. Hubungan darah antara bapak dan anaknya merupakan salah satu cara penurunannya. Ada sebuah penelitian di Amerika yang melakukan tes seperti ini:
Seorang sukarelawan, ditempatkan di dalam sebuah ruangan dengan alat pendeteksi
kebohongan yang disambungkan ke tubuhnya. Sebelumnya, sukarelawan tersebut telah
terlebih dahulu diambil darahnya. Sampel darah sukarelawan tersebut juga
ditempatkan dalam sebuah ruangan kosong yang diamati oleh para peneliti.
Beberapa pertanyaan diajukan pada sang sukarelawan. Setelah diamati, ternyata
ketika sang sukarelawan terbukti berbohong dengan lie detector, darah yang
ditempatkan di ruangan lain juga mengalami “guncangan” yang menyiratkan
ketegangan yang sama, seperti yang dialami oleh sukarelawan di ruangan lainnya.
Sifat-sifat yang dimiliki oleh seorang bapak diturunkan juga pada anaknya. Bahkan perubahan sifat yang mungkin dialami oleh seorang bapak juga akan berdampak pada anaknya. Darah yang sama yang mengalir di nadi seorang bapak, juga mengalir di nadi sang anak. Warisan ini adalah warisan yang abadi turun-temurun dari generasi ke generasi.
Metode kedua yang sangat mungkin dipergunakan oleh alam adalah life-sharing. Di salah satu edisi majalah populer Reader’s Digest, ada sebuah artikel yang membahas tentang pertanyaan-pertanyaan seputar kehidupan. Salah satu pertanyaannya adalah mengapa suami dan istri setelah bertahun-tahun pernikahan menjadi serupa. Jawabannya sangatlah sederhana, life-sharing. Mereka berbagi hidup selama bertahun-tahun, hidup yang mereka jalani agaknya lama kelamaan menyatu.
Ada sebuah pernyataan yang mungkin akan mendukung keabsahan metode ini:
“What you see is what you get.”Apa yang kita lihat, itulah yang kita dapatkan. Sebenarnya pernyataan ini cenderung mengajak kita untuk melihat sisi positif dalam segala hal. Namun, pernyataan ini juga bisa berlaku dalam metode ini. Apa yang anak lihat setiap harinya, yaitu sifat-sifat yang ditunjukkan oleh orangtuanya, maka sifat-sifat itu pula-lah yang akan menjadi warisan bagi sang anak di kemudian hari. Metode ini agaknya akan lebih cenderung terlihat dalam mengangkat anak. Walaupun tidak sedarah, tapi sang anak lambat laun akan serupa dengan orangtua angkatnya. Dengan catatan, anak tersebut berbagi hidup dengan orangtuanya.
Walaupun begitu, seperti yang saya sebutkan di awal, teori ini masih sangat rapuh, karena adanya pertumbuhan penduduk. Adanya penduduk penduduk berarti bertambahnya jumlah penduduk di dunia. Sementara seperti saya sebutkan juga di atas, tidak ada watak yang “mati” maupun “baru lahir” dalam setiap pergantian generasi. Kalaupun ada, peristiwa itu terjadi hanya sekali dalam jenjang waktu yang sangat lama. Seperti kehadiran anak-anak indigo yang disebutkan oleh Nancy Tappe. Padahal sepertinya hanya ada 2 kemungkinan:
1. Dengan jumlah watak yang senantiasa tetap, maka, dari satu generasi ke generasi selanjutnya akan ada degenerasi watak yang diwariskan. Mungkin dari sepasang orangtua yang mempunyai 5 anak, 2 kombinasi watak dibagikan merata pada kelima anak mereka. Dan mungkin revolusi kepribadian yang sedang terjadi ini dimaksudkan untuk merevitalisasi kembali watak-watak baru dengan jumlah yangDemikian teori Nature’s Term of Human Preservation yang bisa saya kemukakan. Teori ini masih rapuh karena seperti saya sebutkan di paragraf sebelumnya, ada 2 kemungkinan yang mungkin menjadi prosedur yang diterapkan oleh alam dalam menanggulangi peningkatan jumlah penduduk. Namun, teori ini bisa dipertimbangkan untuk diterima karena alam selalu mengusahakan keseimbangan dalam dimensi kehidupan. Tanpa keseimbangan tersebut, akan terjadi chaos yang tentunya akan dihindari sebisa mungkin demi menjaga keharmonisan kehidupan manusia di bumi.
proporsional dengan jumlah penduduk manusia. Di mana individu-individu baru ini
membawa sifat-sifat yang berjumlah sangat banyak agar dalam proses degenerasinya sifat-sifat yang diwariskan masih berjumlah cukup.
2. Atau apabila pernyataan saya bahwa tidak ada watak yang “mati” maupun “lahir” dalam setiap pergantian generasi, salah, maka ada kemungkinan bahwa selain menurunkan sifat dari orangtuanya, seorang anak juga membawa sifat khusus dari kelahirannya. Kemungkinan yang satu ini mendukung teori bahwa semua individu adalah unik. Namun bila kemungkinan ini yang terjadi, maka kebalikan dari kemungkinan di atas, dari satu generasi ke generasi setelahnya, terjadi peningkatan jumlah watak. Dengan demikian, dikhawatirkan tanpa adanya revolusi kepribadian, maka akan terjadi overload dari individu-individu di seluruh dunia karena memiliki
watak yang terlalu banyak. Jadi, kehadiran individu-individu baru ini dimaksudkan untuk menyesuaikan kembali jumlah watak generasi awal untuk diturunkan, yang dimana ketika diturunkan akan ada peningkatan jumlah. Jadi individu-individu baru ini hadir di dunia dengan jumlah sifat yang relatif sedikit, agar ketika diturunkan tidak akan terjadi yang namanya overload kepribadian.
Karena kita tahu, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.
Diposting oleh mr.gelo di 01.37 1 komentar
Rabu, 23 Juli 2008
The Rising of a New Religion
Introductory
Sebelum saya memulai penelaahan lebih jauh tentang kebangkitan agama baru ini, izinkan saya membuka pandangan kita lebih jauh tentang agama sendiri. Apa itu agama? Apa itu iman? Mengapa agama menjadi begitu penting dalam kehidupan manusia?
Agama sendiri, menurut pandangan saya, adalah sebuah keyakinan. Keyakinan yang menyatakan apa yang benar dan apa yang salah. Sebuah keyakinan yang membawa kita kepada sebuah pemahaman spiritual. Sebuah keyakinan yang diperlukan untuk menerangi kita dalam menunjukkan kesucian hati kita.
Agama yang kita kenal sekarang, atau apa yang kita biasa sebut dengan agama: Islam, Kristen, Kristen Katolik, Buddha, Hindu, Taoisme, Konghucu, Yudaisme, dan lain sebagainya; disebut agama, karena keyakinan-keyakinan tersebut adalah keyakinan yang berhasil “menarik hati” banyak pengikut. Entah karena ajaran-ajarannya yang memberikan kedamaian pada orang-orang yang mendengarnya, ataupun karena pemimpin agama yang membawa ajaran tersebut memiliki karisma yang luar biasa, memberikan suatu gaya tarik, layaknya gravitasi; ada juga kemungkinan bahwa ajaran tersebut memiliki secercah cahaya kebenaran, atau mungkin, mudah dicerna oleh manusia pada umumnya.
Sedangkan iman adalah keyakinan yang dimiliki oleh seorang individu. Sebuah keyakinan yang entak diakui atau tidak namun dipercaya oleh orang tersebut. Iman sendiri mempunyai nama lain yaitu: mindset. Pola pikir seseorang, atau paradigma seseorang adalah iman yang bersangkutan. Cara pandang manusia terhadap sesuatu adalah iman yang akan menentukan kehidupan individu yang bersangkutan. Iman adalah sesuatu yang bersifat individual, bukan kelompok. Walaupun di dalam sebuah kelompok yang satu dan sama, tidak bisa dipastikan setiap individu di dalam kelompok tersebut memiliki iman yang sama. Jadi, sebagaimanapun Anda mencoba mengubah atau mempengaruhi iman seseorang, semuanya akan berakhir sia-sia sebelum pola pikir atau cara pandang individu tersebut berubah.
Mengapa iman menjadi begitu penting di dalam kehidupan manusia? Adakah iman dalam seorang “atheis”? Kedua pertanyaan tersebut, mau tidak mau, harus saya jawab, ya! Iman adalah satu faktor kehidupan yang sangat fundamental di dalam perjalanan hidup seorang manusia. Manusia disebut-sebut sebagai makhluk spiritual, di samping makhluk ekonomi, social, dan lain sebagainya. Karena memang ada sebuah bagian di dalam “hati” manusia (bukan “hati” secara harfiah) yang didedikasikan untuk spiritualitas.
Lebih lanjut bisa saya jabarkan dalam chapter-chapter selanjutnya; namun secara garis besar, saya akan perkenalkan dua pernyataan ini:
1. Dunia seseorang berlaku sesuai dengan pandangan orang tersebut pada dunia.
2. Manusia memiliki kuasa yang jauh lebih besar daripada bayangan kita pada umumnya. Namun, ada suatu energi/kuasa yang lebih besar dari kuasa yang dimiliki manusia, yang mengatur dunia secara universal agar tidak terjadi tumpang tindih power antar individu dan tetap terjaganya kesetimbangan dalam kehidupan di dunia.
Jadi, iman diperlukan dalam kehidupan manusia – selain yang sudah disebutkan di paragraph sebelumnya – karena iman menentukan kehidupan manusia. Aturan-aturan atau regulasi, sebab-akibat yang berlaku di dalam kehidupan seseorang berdasarkan atas imannya. Hal yang kedua adalah karena jauh di dalam lubuk hati manusia, manusia membutuhkan sosok yang lebih besar, agung, daripada dirinya sendiri. Sosok tersebut bisa berupa apa saja, tidak hanya terbatas oleh sosok dewa-dewa atau Tuhan.
Pandangan baru tentang agama yang sudah saya coba gambarkan dalam bagian introductory ini, menjelaskan sudah tentang definisi agama dan iman, dan alasan mengapa agama sangat penting di dalam kehidupan manusia. Saya akan coba membawa Anda ke dalam penelusuran lebih dalam tentang kebangkitan agama baru ini, yang tanpa kesadaran kita akannya mungkin akan menghapuskan batasan-batasan agama yang ada sebelumnya. Bahkan mungkin, agama yang sebelumnya exist, akan hilang dari peredaran.
Diposting oleh mr.gelo di 09.09 1 komentar
moB
Masa Orientasi Blog...
Sebenernya bikin blog itu cape n bakalan makan waktu yang ga sdikit sma sekale..
Tapi atas desakan temen gw yg gila n tukang kompor itu, akhitnya gw terhasut buat bikin blog. Tapi gw bkalan bkin blog ini agak-agak serius dikit n buat nyalurin isi otak gw yang aneh-aneh bin ajaib tapi nyata. Smoga dengan adanya blog ini gw tmbah pinter, tmbah tinggi, tmbah bnyak duit, tmbah bnyak rejeki, tmbah banyak istri juga calon istri..
Buat lo-lo pda yg da baca blog ne, tolong kasitau temen lo yg gelonya kurang lebih ama kayak gw,, n suru baca ne blog. Biz itu kalo mau kasi comment ato mau debat, ayo lah gw jabanin.. hehe.. debat baek-baek aja kowq.. tenang aja..!! Boleh liat email gw, ato kasi comment situ aja.. Ato kalo ada cara yg lebih canggih stelah gw nanya-nanya ma tmen gw, sebisanya gw bikin.. oc??!
Diposting oleh mr.gelo di 08.34 0 komentar