Make up your mind. Decide. And establish the option you chose about.
They need more time to reconstruct this country. If there is one that will bring Indonesia to her place of breathe-free, then one shall need to destruct and construct. And will 5 years would ever be sufficient?
So much to do, yet so lack we are of time.
The course of history is yet to be changed. Revolution is on the uprising, let it flow, let it be free. We are running out of time. We were progressing, but are we really? Do think about it. Do contemplate about it.
We need a direction, we need a vision. We need to know once again the purpose that lied upon the alpha and omega of our existence.
Only through the fulfillment of our being would we ever be progressing. Since we are to progress first to insignificance if we are to achieve our meaningful significance.
Do remember that what we see is not the actual. Never believe merely on what you see, yet see what you believe.
The truth is actually lied underneath the dirt of reality.
Jumat, 17 April 2009
pemilu '09
Diposting oleh mr.gelo di 19.25 0 komentar
Rabu, 01 April 2009
life of lacks
We were once lacking of consciousness, but now we have been 'conscioussed', yet we are still lacking, which is now of heart. A heart to go for an extra mile, of heroism and patriotism, of willingness, of giving and not demanding, to do what is right and not what is easy, of self-sacrifice, that feel guilty for wrongdoings, of valour and which is pure.
It seems that life is a cycle of lacking for so-called human beings, which are to be condemned and imperfect for their whole lifespan.
Or was it just another challenge for us to overcome?
Diposting oleh mr.gelo di 06.30 0 komentar
Label: challenge, consciousness, heart, life cycle, lifespan
delusion
The problem with knowing and aware of the importance of knowledge is that we tend to create an image such that we are what we know.
This root leads to the delusion of self.
Diposting oleh mr.gelo di 06.23 0 komentar
kebenaran....(1)
Kalau benar 'kumpulan massal tidak menemukan tidak pula mayoritas yang mampu mengatur atau berpikir; namun selalu hanya seorang individu, seorang manusia', maka sesungguhnya, tidak ada yang pantas disebut sebagai kebenaran universal, karena pada hakikatnya, setiap individu melahirkan buah pikirannya masing-masing, kebenarannya yang personal dan yang menjadi pegangan bagi hidupnya pribadi.
Sesungguhnya kebenaran adalah banyak, dan penunggalan kebenaran hanyalah berartikan penipuan yang disengajakan. Mayoritas tidak pernah seia-sekata, yang ada hanyalah pemaksaan kehendak.
* : Adolf Hitler, Mein Kampf II
Diposting oleh mr.gelo di 06.02 0 komentar
Label: kebenaran universal, mayoritas, pemaksaan kehendak, pikiran, seia-sekata
Sabtu, 28 Februari 2009
Menghargai Dengan Terbatas
Manusia akan selalu menghargai dengan terbatas pada pengkondisian yang ada.
Disituasikan bahwa kita sedang mengalami hal yang buruk di kelas - sebut saja - kimia. Namun sejauh apakah 'buruk' yang kita maksud adalah yang menjadi persoalan sebenarnya. Reaksi kita pada yang kemudian pun juga adalah tergantung.
Di akhir pelajaran yang buruk tersebut, sang guru menyampaikan pemberitahuan, 'Pelajaran akan kita lanjutkan lagi besok.'
Dari reaksi kebanyakan akan dapat diketahui seberapa burukkah kelas tersebut telah berlangsung, dan sejauh apa kita menghargai relief-opportunity yang dihadiahkan kepada kita. Mereka yang lebih mengerti akan perkara yang sesungguhnya adalah mereka yang akan lebih menghargai.
Alternatif Reaksi 1:
'Pelajaran akan kita lanjutkan lagi besok.'
Gemuruh suara mereka yang mencerca terdengar memenuhi kelas. Mereka yang tidak puas karena harus menderita lagi pelajaran kimia menyuarakan desauan mereka.
Alternatif Reaksi 2:
'Pelajaran akan kita lanjutkan lagi besok.'
Tarikan napas lega menggantung di langit-langit kelas yang telah sebelumnya dipenuhi dengan keresahan. Hanya setelahnya, mereka dapat lagi duduk berselonjor dari sebelumnya ditegangkan.
Sudah jelas, mereka yang mengadopsi alternatif reaksi pertama adalah mereka yang kurang menghargai terlebih karena penderitaan yang harus mereka terima dari kelas kimia tersebut bukanlah sebagaimana terdengar dari pendapat tergeneralisasi mereka.
Namun, mereka yang menganut reaksi kedua adalah mereka yang benar menghargai kelegaan sejenak yang diberikan kepada mereka, karena begitu hebatnya penderitaan mereka telah memuncak dalam kelas kimia tersebut. Mereka bahkan dapat menghargai sedetik saja waktu kabur dari hukuman kelas kimia tersebut.
Adakah prinsip kerja cinta berlaku sama?
Diposting oleh mr.gelo di 00.22 0 komentar
Selasa, 23 Desember 2008
Wanita
Aku tidak mengerti wanita seperti aku mengenal dunia ini
Dunia ini berlaku atas dasar hukum-hukum yang didalilkan ilmuwan-ilmuwan seperti Newton
Namun tidak ada satupun hukum di dunia ini yang mengatur wanita
Man cannot live without woman
Kata-kata bernada feminis itu agaknya benar adanya
Manusia tidak bisa hidup tanpa wanita
Dan laki-laki pun tidak bisa hidup tanpa mereka
Kalau boleh kubandingkan dengan pelajaran sainsku di sekolah,
Laki-laki adalah adhesi, dan wanita adalah kohesi
Separuh jantung laki-laki dititipkan pada seorang wanita
Namun sayangnya, wanita mampu hidup dalam paruh
Bukan mereka yang membutuhkan kita (laki-laki), tapi tetap saja mereka rela kita gagahi
Entah kenapa, entah bagaimana, aku tidak mengerti mengapa mereka mau kita injakki
Kurasa keberadaan mereka memang sama sekali bukan untuk dimengerti, tapi untuk dipuja
Mungkin ini yang bagi beberapa orang disebut sebagai kodrat, tapi jelas bukan aku salah satunya
Tidak begitu masuk akalku bagaimana hukum kodrat itu dapat berlaku, tapi biarlah
Wanita tidaklah berasal dari dunia ini
Dunia ini tidak bisa mengerti mereka
Karena sesungguhnya, wanita adalah dewi, dan bukan hewan seperti adanya laki-laki
Kata-kataku ini tidak terteruskan karena lidahku kelu dan bibirku terdiam seribu bahasa
Aku tidak tahu dengan bahasa apa aku harus mengisahkan mereka
Tidak pula aku tahu bagaimana kemuliaan mereka sebenarnya
Mereka adalah bagian dari heaven on earth
Karena mereka adalah wanita
Diposting oleh mr.gelo di 22.12 0 komentar
Kamis, 21 Agustus 2008
Sarjana Kok Pengangguran??
Generasi muda saat ini sepertinya telah kehilangan semangat kemerdekaan yang seharusnya mereka warisi dari kakek-nenek mereka. Kemerdekaan yang sudah diproklamirkan, dan "kebebasan" yang sudah semakin ditekankan saat ini, sama sekali tidak memberikan kebebasan yang sesungguhnya pada bagian besar dari masyarakat Indonesia. Mereka yang hidupnya di bawah garis kemiskinan masih mendominasi warga Indonesia. Namun anehnya, tidak lagi sama seperti dulu ketika para pemuda terpelajar berjuang dan menyatukan tangan melalui Sumpah Pemuda, saat ini banyak sarjana yang "mengais sisa-sisa kehidupan" masyarakat berada. Sarjana atau tidak, keduanya sama-sama mengemis pekerjaan.
Tiada maksud untuk merendahkan siapapun di sini. Hanya saja, kenyataan ini sungguh sangat pahit bila kita ingat betapa makmurnya kita dulu, betapa kita adalah pusat pelajar-pelajar luar negeri berdatangan untuk menimba ilmu, baik agama maupun yang lain. Survey BPS pada Februari 2008 menunjukkan angka yang fenomenal. 626.202 sarjana menganggur. Angka tertinggi sejak tahun 2004, yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Sempat menurun pada Februari 2006, namun kemudian terus meningkat dan mengalami lonjakan sebesar 38,23% dari Februari 2007 ke Agustus 2007.
Angka di atas belum termasuk lulusan dari diploma atau akademi yang mencapai angka 519.867 jiwa. Lonjakan terbesar terjadi dari Agustus 2007 ke Februari 2008 sebesar 30,89%. Angka pengangguran terus meningkat, padahal bangsa kita sudah "merdeka" beberapa kali. Kemerdekaan kita secara berurut: 20 Mei 1908 (Budi Utomo / Hari Kebangkitan Nasional), 28 Oktober 1928 (Sumpah Pemuda), 17 Agustus 1945 (Proklamasi), 11 Maret 1966 (Supersemar / Lengsernya Rezim Soekarno), 21 Mei 1998 (Reformasi / Lengsernya Rezim Orde Baru). Kemerdekaan-kemerdekaan di atas selalu diprakarsai oleh pemuda-pemudi Indonesia. Namun, mana buktinya?
Sampai saat ini masih jutaan rakyat Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan. Kesejahteraan yang dicanangkan sejak tahun 1945 dalam UUD '45 tidak pernah terwujud. Sejahtera hanya dapat dirasakan oleh segelintir orang yang cenderung tidak lagi memiliki hati nurani untuk berbagi kesejahteraan itu dan mempedulikan mereka yang tidak bisa merasakan makna sejahtera sendiri. Intelek Indonesia sepertinya tidak sanggup lagi merevitalisasi tingkat kesejahteraan di Indonesia. Mengapa?
Para intelek yang seharusnya menjadi ujung tombak andalan bangsa malah menganggur, dan akhirnya menyerah pada kekejaman nasib. Para intelek yang seharusnya berdiskusi bersama mencari solusi, malah asyik berdemo di bundaran HI dan depan gedung DPR. Para intelek yang seharusnya memimpin bangsa ini, malah menjadi "kaum pembuat onar" saja, kata mereka yang senior. Jadi, di mana lagi harus kita cari penerus bangsa ini selain di antara kaum intelektual?
Apa yang terlihat di dua kenyataan ini adalah bahwa menurunnya standar intelektualitas Indonesia berpengaruh sangat besar pada tingkat kesejahteraan Indonesia. Kaum intelek mempunyai pengaruh yang luar biasa pada kemajuan bangsa ini. Di pundak merekalah bangsa ini berharap. Di bahu merekalah seharusnya bangsa ini bersandar. Hal ini terbukti dari sejak para pemuda Indonesia mengenyam pendidikan, kebangkitan nasional barulah terjadi. Di tangan generasi mudalah kebangkitan nasional.
Kebobrokan moral, dan semakin menjadinya semangat individualistis, ketidakpedulian terhadap orang lain, dan semakin tidak adanya rasa cinta generasi muda Indonesia pada tanah airnya mencerminkan masa depan bangsa ini. Generasi ini yang akan menggantikan posisi para pemimpin-pemimpin kita yang sebentar lagi akan atau mungkin sudah usang. Karenanya, tidak adanya pembaharuan semangat dalam generasi muda, yang identik dengan intelek, akan menghancurkan kita di masa yang akan datang, bahkan mungkin dalam waktu singkat.
Hal ini mungkin disebabkan oleh tingkat pendidikan yang bukannya semakin membaik, malah sebaliknya. Adanya perubahan atau pergeseran nilai-nilai yang di anut oleh generasi muda saat ini tidak diikuti oleh penyesuaian kurikulum oleh Depdiknas. Kurikulum yang fleksibel seharusnya menggantikan kurikulum lama kita yang sudah kuno, ketinggalan 2-3 langkah dari negara-negara maju.
Harus diakui, gejolak perubahan nilai ini tidak hanya dialami oleh Indonesia, tapi juga seluruh dunia. Negara adidaya Amerika, yang terus mempertahankan tradisi pendidikannya, saat ini juga mengalami goncangan. Negara yang menjadi kiblat dari kemajuan, modernitas, dan perkembangan ini juga sedang berjuang dalam mewadahi perubahan substansial dalam pribadi generasi sekarang. Banyak desakan berdatangan dari pengamat pendidikan untuk menciptakan kurikulum yang bisa mengakomodasi anak-anak "baru" zaman sekarang.
Sementara Indonesia, terbiasa berleha-leha, menunggu negara maju menciptakan inovasi untuk dicontek bangsa kita. Kita adalah pengikut yang setia, copycatter yang sempurna. Kemalasan orang kita untuk berpikir, bermimpi dan mengambil alih pimpinan mungkin adalah mental yang ditanamkan sejak kita masih kecil. Kita "diajarkan" untuk kalah, menjadi nomor 2, dan menjadi pihak yang lemah. Ada pendapat bahwa itu disebabkan oleh penjajahan selama 365 tahun oleh Belanda, dan 3,5 tahun oleh Jepang. Bagaimanapun juga, kita tidak sepatutnya menyerah seperti itu.
Kemerdekaan adalah sesuatu yang bersifat pasif. Ia tidak seperti mental perbudakan yang aktif. Kemerdekaan tidak bisa berjuang sendiri. Ia membutuhkan manusia untuk mewujudkannya. Sementara mental perbudakan dapat secara aktif mencari celah untuk tetap eksis. Karenanya, kemerdekaan adalah sesuatu untuk diperjuangkan, secara aktif dan kontinu. Saat kita berhenti berjuang, kemerdekaan kita akan direbut daripada kita.
Momen-momen bersejarah yang disebutkan di atas adalah saat-saat di mana kita merdeka. Namun, sesudahnya, kita berhenti berjuang. Kita mengira, rezim telah jatuh, kita bebas, saatnya bersantai. Tapi tidak! Perjuangan kita tidak pernah berhenti. Kemerdekaan tidak pernah datang sendiri. Kemerdekaan harus diperjuangkan! Harus! Kebebasan harus diperjuangkan. Kemerdekaan bukanlah sekedar proklamasi pada dunia bahwa kita bebas. Namun, kemerdekaan adalah semangat. Dan semangat membutuhkan perjuangan yang kontinu.
Karenanya, untuk dapat merdeka seutuhnya, kita harus tetap berjuang. Indonesia tetap membutuhkan tetes darah perjuangan generasi mudanya. Indonesia membutuhkan semangat kemerdekaan itu lagi untuk benar-benar bebas dari belenggu kemiskinan, kebodohan, kolonialisme negara lain, dan untuk tetap eksis di era globalisasi ini.
Merujuk pada pendidikan Singapura, anak-anak Singapura memulai pendidikan mereka sama seperti anak-anak Indonesia pada umumnya di kota besar. Pada umur 3 tahun masuk ke jenjang TK (Kindergarten), kemudian dilanjutkan selama 6 tahun di SD (Primary). Namun setelahnya, ada sedikit perbedaan yang sangat signifikan artinya. Pemerintah Singapura mengerti akan adanya perbedaan kecerdasan anak. Karenanya memasuki jenjang SMP (Secondary) anak diberikan "pilihan" berdasarkan kemampuan masing-masing. Secondary di Singapura bisa ditempuh dalam 4 tahun (Express) dan 5 tahun (Normal). Pada akhir jenjang ini, bagi siswa yang express, akan mengikuti ujian "O" (Ordinary) Level; sedangkan yang normal akan mengikuti ujian "N" Level. Setelah itu, banyak pilihan tersedia. Mereka bisa mengarah ke Politeknik, Institut, atau SMA (Junior College - persiapan menuju universitas) - yang juga bisa ditempuh selama 2 atau 3 tahun, tergantung tingkat kecerdasan anak masing-masing - di mana mereka akan mengambil ujian "A" (Advanced) Level pada akhirnya.
Skema di atas tidaklah bermaksud untuk mengelompok-kelompokkan mereka yang pintar dari mereka yang bodoh. Namun, mengakomodasi tingkat kecerdasan pribadi yang berbeda-beda. Teman saya yang berkewarganegaraan Singapura mengaku mengikuti yang normal. Ia menambahkan bahwa kebanyakan anak di Singapura mengambil sama seperti dirinya. Itu berarti, aplikasi skema tersebut sama sekali tidak membuat malu yang satu atau meninggikan yang lainnya. Ia tambahkan lagi bahwa menempuh yang normal saja sudah membuat stres apalagi yang express.
Ujian yang mereka jalani, "O" Level, "N" Level, "A" Level, juga PSLE (Primary Six Leaving Exam) untuk ujian akhir SD, tidak menganut sistem lulus / tidak lulus. Hanya tinggal berapa nilai yang mereka peroleh. Bila ada nilai yang merah atau yang kurang memuaskan, terserah pada sang anak apa ia akan melanjutkan atau mengulang 1 tahun. Tidak ada pemaksaan. Sama seperti skema mana yang mau dijalani adalah pilihan anak yang akan menuntut konsekuensi dari sang anak sendiri. Satu hal yang sepatutnya kita tiru untuk Indonesia.
Bila kita lihat pelaksanaan UN saat ini, kita mati-matian dengan segala cara untuk lulus, tidak peduli berapa nilai yang kita peroleh. Lulus dengan nilai pas-pasan sudah membuat hati senang riang gembira. Hal ini juga berdampak pada ketidaksiapan lulusan SMA saat mengenyam pendidikan tinggi, dan diturunkannya juga standar penerimaan masuk perguruan tinggi dan materi selama kuliah, agar terus mendapat suplai murid demi keberlangsungan perguruan tinggi yang bersangkutan.
Lain halnya dengan Singapura, sangat sedikit yang mau belajar terus sampai kuliah. Kebanyakan dari mereka, menjalani Secondary selama 5 tahun, lalu dengan ijazah tersebut melanjutkan terlebih dahulu ke Polytechnic selama kurang lebih 3 tahun. dan kemudian mereka siap untuk kerja. Perkara setelahnya, apakah mereka mau mengambil gelar sarjana 1 atau bahkan langsung meloncat ke strata 2, atau tetap bekerja dengan gelar diploma (didapat setelah lulus dari politeknik) saja, kembali adalah pilihan sang anak. Karenanya, lulusan-lulusan universitas Singapura sangat terjamin mutu dan kualitasnya. Sementara lulusan-lulusan politeknik adalah individu-individu yang siap kerja dan kompetitif di pasar tenaga kerja.
Berbeda jauh dengan keadaan di Indonesia saat ini. Lulusan universitas-universitas Indonesia masih banyak yang menganggur. Padahal biaya untuk kuliah dan selama kuliah pun tidak sedikit. SMK pun tidak populer di kalangan masyarakat. "Ga ada gengsinya", adalah gema dari SMK. SMK swasta pun tidak banyak tersedia karena pasarnya relatif tidak ada. Padahal, tidak semua orang mendedikasikan dirinya untuk belajar. Beberapa orang mungkin berpendapat "belajar untuk hidup" (tipe SMK), sedangkan yang lain, "hidup untuk belajar" (tipe SMA). Atau mungkin lebih tepatnya, mereka yang cenderung praktikal seharusnya memilih SMK, sedangkan mereka yang lebih teoretis memilih SMA.
Karir di keduanya seharusnya dibuat menjanjikan, karena memang menjanjikan. Sementara sekarang, yang terlihat menjanjikan hanyalah pekerjaan melalui SMA (teoretis) seperti bisnis, manajemen, hukum, dokter, dsb. Padahal, pasar tenaga kerja sedang meraung-raung mencari angkatan kerja yang siap bekerja. Juga ada bidang-bidang yang lagi in seperti teknik informasi, multimedia, dan mass communication ataupun public relation. Tak lupa juga, ada bidang-bidang lama yang menangis karena jarang peminat, seperti: teknik sipil, pertanian, perkebunan, perhutanan, teknik mesin, teknik elektro, dan berbagai teknik-teknik lainnya yang sebenarnya lebih praktikal. 3 masalah di atas seharusnya bisa diselesaikan oleh kehadiran SMK yang berbobot, karena mereka bersifat lebih praktikal, membutuhkan kesempatan bereksperimen, magang, dan berhadapan langsung dengan dunia kerja sesungguhnya.
Lulusan SMK sepatutnya dipersiapkan untuk bekerja, siap bekerja tanpa mengenyam pendidikan di universitas terlebih dahulu. Karena ternyata, masih banyak pula yang hanya mengandalkan ijazah SMA untuk mencari kerja. Survey BPS Februari 2008 menunjukkan angka 3.369.959 lulusan SMA menganggur. Tidak terlalu fenomenal jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang pernah mencapai angka 5 juta pada November 2005, namun patut dipertanyakan juga.
Hal ini tidak dimaksudkan untuk membeda-bedakan hak belajar sebagai seorang WNI, namun mengakomodasikannya. Sekali lagi perlu kita ketahui bahwa tidak semua orang suka belajar. Tidak semua orang tidak suka belajar. Dan kita perlu mengakomodasi keduanya. Yang terpenting adalah kita bisa menyediakan kehidupan yang lebih layak melalui pendidikan. Baik itu melalui SMK kemudian bekerja, ataupun melalui SMA-Universitas-Bekerja yang lebih memakan biaya tentunya.
Menyediakan SMK yang lebih bergengsi dan berkualitas adalah salah satu cara terbaik yang bisa kita tempuh saat ini. Ini akan menjawab berbagai persoalan kita dari mengurangi pengangguran intelektual, mengurangi perbedaan tawaran dan permintaan dari lapangan kerja dan angkatan kerja, dan memajukan Indonesia dengan membaiknya standar intelektualitas. Satu pesan tersisa, berjuanglah tanpa henti, karena kebebasan tak bisa didapat tanpa perjuangan yang kontinu.
Diposting oleh mr.gelo di 02.48 0 komentar